Blok Rokan Masih Menghasilkan Minyak 2,8 Juta Barel

Meski merupakan ladang tua yang sudah dikeruk sejak puluhan tahun silam ternyata potensi Blok Rokan ternyata masih cukup menggiurkan. Makanya tidak salah kalau PT Chevron Pasifik Indonesia masih berkeinginan memperpanjang pengelolaan ladang minyak yang berada di empat kabupaten di Riau itu.

Blok Rokan mampu menghasilkan produksi minyak sekitar 122 ribu barel per hari (bph) atau menyumbang sekitar 50 persen total produksi Chevron yang saat ini mengelola blok tersebut.

Riau sendiri merupakan daerah penghasil minyak terbesar di Indonesia. Sumber daya alamnya dikelola oleh Chevron, Petroselat, Bumi Siak Pusako, Pertamina, Kondur Petroleum dan Pembangunan Riau. Daerah ini mampu menghasilkan 365.827 barrel per hari dengan rincian minyak mentah sebanyak 359.777 barrel dan kondesat sebesar 6.050 barrel.

Sementara itu, menurut perkiraan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau Blok Rokan masih menyisakan cadangan minyak yang mencapai 2,875.50 juta barel. Oleh sebab itu Pemprov Riau berharap pusat memberi daerah ini kesempatan untuk mengelolanya sendiri.

“Kalau ditanya berapa besar keinginan Riau dilibatkan dalam pengelolaan Blok Rokan tentu besar, dan kita sudah lama mengharapkan agar kita dapat terlibat mengelola Blok Rokan,” kata Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Riau, Indra Agus Lukman, Selasa (31/7/2018).

Disinggung cadangan minyak di Blok Rokan, Indra menyampaikan diperkirakan mencapai 2,875.50 juta barel. Dimana untuk energi fosil cadangan terbukti tersebut berada di wilayah operasi Chevron.

“Angka 2,875.50 juta ini sangat mungkin kalau Blok Rokan bisa dikelola dalam jangka panjang lagi. Kalau untuk gas bumi kita cadangannya pada angka 1,093 billion cubic feet (bcf),” terangnya.

Menurut data Dinas ESDM Riau terhadap lifting minyak Riau yang dikelola PT Chevron pada lima kabupaten penghasil seperti Bengkalis, Rohil, Rohul, Siak dan Kampar.

Pada 2016 Chevron mengelola 91.596.290 barel dan 2017 sebesar 61.583.658 barel. Angka ini terdiri dari jenis minyak mentah Sumatra Light Crude (SLC) dan Duri Crude.

Untuk SLC sendiri Lifting PT CPI sepanjang 2016 adalah 53.593.703 barel. Terdiri dari Bengkalis 9.656.357, Kampar 11.426.688, Rohul 247.611, Rohil 18.762.863 dan Siak 13.498.172.

Sementara untuk jenis ini pada 2017 sebanyak 36.888.686 barel. Terdiri dari Bengkalis 7.107.249, Kampar 7.503.925, Rohul 127.461, Rohil 13.221.704 dan Siak 8.928.344.

Kemudian untuk jenis minyak mentah Duri Crude lifting PT CPI pada 2016 atas laporan ke Pemprov Riau sejumlah 38.002.587 barel. Terdiri dari dua kabupaten yakni Bengkalis sebesar 37.927.765 dan Rohil 74.821. Lifting pada 2017 adalah sejumlah 24.694.972 barel terdiri atas Bengkalis 24.642.360 dan Rohil 52.591.

Pada kesempatan tersebut Indra Agus mengatakan, sejak dua tahun terakhir pihaknya sudah melakukan penguatan mulai dari Sumber Daya Manusia (SDM), peralatan maupun teknologi melalui Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dalam rangka rencana keinginan mengelola Blok Rokan.

“Upaya perbaikan di internal sudah kita lakukan. Bahkan kita sudah menyurati Kementerian ESDM, dan pak Gubernur juga sudah bertemu Pak Menteri dan Wakil Menteri ESDM membicarakan keinginan Pemprov Riau ikut serta kelola Blok Rokan,” bebernya.

Karena itu, sebut Indra Agus, Pemprov Riau masih menunggu keputusan pemerintah pusat terkait siapa operator yang akan mengelola Blok Rokan, apakah dilanjutkan PT Chevron atau PT Pertamina.

“Itu kan mekanisme di pusat. Jadi kita tunggu siapa operator yang ditunjuk pusat. Yang jelas kita sebagai daerah penghasil bisa diberi porsi lebih lah selain PI (Participating Interest) 10 persen. Kalau itu sudah amanat undang-undang, kerja tak kerja dapat 10 persen,”  paparnya.

redaksiR7

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *