Dibalik Legenda dan Mitos Keunikan Danau Naga Sakti Kecamatan Pusako, Siak

Danau Naga Sakti, salah satu objek wisata Kabupaten Siak. Sebenarnya danau dengan luas sekitar 400 hektare itu sudah ada sejak dulu, hanya saja baru sejak Siak berdiri sebagai Kabupaten Danau ini mencuri perhatian Pemerintah Kabupaten Siak.

Jika dilihat, Danau Naga Sakti memiliki keunikan tersendiri. Airnya selalu hangat, baik siang maupun pada malam hari dengan warna seperti teh. Bahkan menurut orang tua setempat, ada cerita panjang hingga mitos yang menyelimuti nama Danau Naga Sakti itu.

Dahulu, seorang ibu warga Kampung Benayah, Dusun Perbadaran, Kecamatan Pusako melahirkan anak kembar. Namun, satu di antaranya berwujud manusia separoh ular naga.

Anak yang berwujud separoh ular naga itu, kemudian dianggap aib oleh sang ibu. Karena takut diketahui masyarakat sekitar, maka diusirlah anak manusia separoh ular naga itu diusir orang tuanya.

Anak berwujud separoh ular itu, kemudian pergi ke hutan dan menemukan sebuah Danau. Kabarnya, danau itu dihuni oleh anak berwujud separoh ular naga tersebut, sebab itu disebut danau Naga Sakti.

Sedangkan, saudara kembarnya yang terlahir normal hidup bersama keluarganya di Kampung Perbadaran. Bahkan, disebutkan saudara kembarnya itu masih hidup hingga dan sudah berusia tua dan kabarnya hidup di Pekanbaru.

Kabar itu perkuat dengan kesaksian Tono, seorang ajudan dan orang pintar yang bisa menerawang. Menurut Tono, hingga kini manusia separoh ular naga itu dipercaya masih hidup di alam gaib. Tono juga membenarkan bahwa kembarannya yang terlahir sebagai manusia normal itu berada di Pekanbaru.

“Kemarin kembaranmya sempat datang ke Danau Naga Sakti ini dan mengucapkan salam. Diperkirakan kembarannya berusia sekitar 50 tahun lebih” kata Tono.

Menurut cerita masyarakat dahulu, setiap setahun sekali muncul makhluk menyerupai naga sehingga diberi Nama Danau Naga Sakti.

Sementara itu terlepas dari cerita asal muasal pemberian nama danau itu, Penghulu Kampung Dosan Firdaus saat mengatakan bahwa Danau Naga Sakti merupakan potensi wisata di wilayah itu.

Namun, pengelolaan kawasan ini masih swadaya. Masih banyak sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk menarik minat wisatawan. Kepedulian terhadap potensi wisata ini tidak hanya dari pemerintah, tetapi juga perusahaan yang beroperasi di sekitar danau.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *