Ketika Presiden Punya Peranan Penting Dalam Munaslub Pohon Beringin, Airlangga atau Titiek ya

Tinggal menghitung hari Munaslub Partai Golkar akan digelar. Mengerucut dua nama calon Ketua Umum yang bersaing ketat yakni, Airlangga Hartarto dan Titiek Soeharto. Selain gesit menggalang dukungan DPD I dan DPD II, juga dikabarkan kedua calon Ketum Golkar tersebut giat melobi Istana untuk mendapatkan restu.

Ketua Progres 98, Faizal Assegaf menyindir perilaku membongkok ke Jokowi itu justru mengesankan Munaslub Golkar tidak independen, sangat norak dan memalukan.

“Intinya makin memperjelas Munaslub tetap dalam kontrol penguasa, siapa yang dekat dengan Istana sudah pasti dipaksakan jadi ketum Golkar,” kata Faizal kepada redaksi , Senin (11/12).

Akrobat politik itu telah dilakukan kasat mata di Munaslub Bali dan kini skenario serupa akan dimainkan kembali secara vulgar. Jadi, menurut dia, sangat mustahil bila Titiek Soeharto yang begitu kental hubungannya dengan Prabowo Subianto serta oposisi meminta dukungan Jokowi.

“Hasilnya akan sia-sia,” tegasnya.

Lebih lanjut Faizal mengatakan, sebenarnya peta pertarungan di internal Golkar terlihat sangat jelas antara kubu Jusuf Kalla-ARB, Luhut-Jokowi dan kubu Akbar Tanjung.
Dengan gambaran ini, menurut Faizal, idealnya Titiek Soeharto menggalang konsolidasi untuk menyatukan kubu JK, ARB dan Akbar Tanjung. Tapi nampaknya Titiek telah terjebak ‘lempar handuk’ pada Jokowi.

Titiek Soeharto lupa bahwa Airlangga sejak awal telah disiapkan untuk melayani kepentingan Jokowi terkait Pilkada 2018 dan Pilpres 2019. Bahkan Faizal menganalisa, Airlangga tidak sebatas dijadikan ketum untuk memastikan Golkar mengusung Jokowi di Pilpres 2019. Tapi juga memberi peluang baginya jadi cawapres Jokowi.

“Pemufakatan politik tersebut telah dibaca oleh kubu Jusuf Kalla, ARB dan Akbar Tanjung. Sehingga JK sejak awal bersikap hati-hati sebab sudah tahu Luhut dan Jokowi akan khianati Titiek Soeharto,” terangnya.

Faizal mengingatkan, kalau Titiek Soeharto dan para pendukungnya tidak segera menyatukan potensi dengan JK, ARB dan Akbar Tanjung, maka agenda Luhut dan Jokowi berjalan mulus.

“Singkatnya, jangan bermimpi Jokowi dan PDIP akan membiarkan Titiek Soeharto dan Cendana menguasai Golkar. Kalau hal itu terjadi maka menjadi bencana bagi Jokowi di Pilpres 2019,” demikian Faizal.

redaksiR7

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *