Proyek PLTA dan Waduk Serbaguna Rokan IV Koto, Tidak Diterima Warga

Warga empat desa di Kecamatan Rokan IV Koto, tolak pembangunan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) sekaligus waduk serbaguna yang dilakukan pemerintah.

Dikatakan warga, proyek PLTA sekaligus waduk serbaguna yang dibangun di Lompatan Harimau Sungai Rokan, nantinya berdampak buruk terhadap empat desa di Kecamatan Rokan IV Koto, sama nasibnya dengan perkampungan saat proses pembangunan PLTA Koto Panjang, Kabupaten Kampar.

“Bila kita kaji, nantinya daerah kita akan mendapat dampak lebih banyak mudarat¬† daripada manfaatnya,” tegas ‚ÄéRikizaputra M.Pd, merupakan putra daerah Desa Cipang Kiri, Rabu (30/8).

Tegas Riki yang juga Ketua Umum Gerakan Anak Muda Riau (GAMA Riau), PLTA yang akan dibangun pemerintah pusat nantinya dibangun di hulu Sungai Rokan. Aliran sungai akan dibendung, itu sama halnya Sungai Kampar untuk pembangunan PLTA Koto Panjang.

Nantinya, bila proyek PLTA Lompatan Harimau Sungai Rokan dengan dana lebih dari Rp2 triliun jadi dibangun pemerintah, maka sekitar 8.000 jiwa penduduk di empat desa yang terancam nasibnya, dan terpaksa mereka harus pindah dari kampungnya.

Sebut Riki juga Dosen Universitas Lancang Kuning Pekanbaru, dari analisa dan kajian pihak pemerintah pusat, hanya empat kampung yang akan terkena dampaknya dan akan direlokasi atau dipindahkan ke Kampung Tinggi yang masih daerah kawasan hutan, seperti Kampung Lubuk Ingu, Pangkalio, Banjar Datar, dan Kampung Tibawan.

Fakta yang terjadi selama ini kata Riki lagi, bakal ada empat desa di Kecamatan Rokan IV Koto yang bakal terkena dampaknya, seperti Desa Cipang Kiri Hilir, Desa Cipang Kiri Hulu, Desa Tibawan, dan Desa Cipang Kanan.

“Disaat musim hujan, maka hulu Sungai Mentawai saja sudah kebanjiran. Kalau PLTA jadi dibangun, tentunya nanti masyarakat yang jadi korbannya,” tegasnya.

Dirinya berharap, agar pemerintah mengkaji ulang pelaksanaan proyek PLTA di Lompatan Harimau Sungai Rokan tersebut. Apalagi, masyarakat empat desa di Rokan IV Koto akan membuat forum penolakan pembangunan PLTA di Lompatan Harimau.

“Memang itu merupakan proyek nasional, namun kalau lebih besar mudarat daripada manfaatnya bagi masyarakat tempatan kami menolaknya,” tegas Riki.

Informasinya, masyarakat di empat kampung, akan dipindahkan ke Kampung Tinggi, sementara wilayah itu masih hutan belantara. Kemudian, dampak buruk lain dengan dibangunnya PLTA Lompatan Harimau, sambung Riki, akan ganggu kultur budaya setempat, karena akan banyak warga yang direlokasi dari kampungnya sementara mereka sudah hidup sudah sejak lama di kampung tersebut.

Kemudian, pembangunan PLTA Lompatan Harimau juga dinilai akan rusak ekosistem Sungai Rokan yang selama ini sebagai tempat warga mencari ikan untuk menopang ekonomi keluarga di daerah tersebut.

redaksiR7

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *