Warisan Budaya Nasional, Berlari Diatas Tual Sagu

Lari di Atas Tual Sagu yang berasal dari Desa Bokor Kecamatan Rangsang Barat Kabupaten Kepulauan Meranti masuk daftar jadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Nasional Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2018.

Karya budaya ini masuk daftar penetapan WBTB bersama karya budaya lainnya dari empat provinsi dibawah wilayah kerja Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Kepulauan Riau dengan nomor registrasi 2016006981 pada Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kepulauan Meranti, melalui Kasi Sejarah dan Kepurbakalan, Abdullah mengatakan untuk ditetapkan sebagai WBTB, Lari di Atas Tual Sagu sebelumnya harus melalui sejumlah tahapan presentasi dan kajian terhadap karya budaya ini.

“Sebelum ditetapkan sebagai WBTB, Lari di Atas Tual Sagu harus melalui sejumlah tahapan dan syarat teknis. Dan sangat bagus sekali jika banyak karya budaya kita yang ditetapkan WBTB, selain sebagai upaya pelestarian, ini juga sebagai upaya agar tidak ada klaim dari pihak lain,” kata Abdullah, Selasa (16/7/2018).

Penggagas Lomba Lari di Atas Tual Sagu yang kemudian ini dijadikan sebagai event budaya tiap tahunnya tidak terlepas dari tangan kreatif, ketua Sanggar Bathin Galang Desa Bokor, Sopandi Rozali.

Sopandi menceritakan Lari di Atas Tual Sagu adalah sebuah proses sebelum tual sagu dijadikan tepung. Dimana setelah di panen, selanjutnya tual sagu yang sudah dipotong dikeluarkan dari kebun dengan cara digolek sampai ke sungai, di sungai tual sagu dirakit atau diikat dengan tali agar mudah membawanya selanjutnya dari sungai ditarik ke darat dengan menggunakan kapal.

Untuk menghitung jumlah tual sagu yang sudah diikat dan direndam di dalam sungai ataupu di laut dilakukan dengan berjalan di atasnya. Untuk mempercepat penghitungan tual sagu, kadang-kadang dilakukan sambil berlari.

Selanjutnya tual sagu digolek ke tempat pengolahan sampai menjadi tepung. Kebiasaan inilah pada masa sekarang diangkat menjadi permainan dan berpotensi diangkat menjadi penunjang pariwisata unggulan Kabupaten Meranti.

Lomba Lari di Atas Tual Sagu ini diadakan di Sungai Bokor, Kecamatan Rangsang Barat dengan jumlah peserta yang tidak terbatas dan lomba ini hanya bersifat eksibisi dan sebagai sarana promosi wisata. Sebagai kegiatan pendukung, diadakan juga pegelaran musik, tari dan teater, pembacaan puisi, pesta buah, kuliner dan kerajinan.

Lomba ini sudah sering dilakukan seperti Fiesta Bokor Riviera Tahun 2011, Bokor Folklore Festival tahun 2012, Lomba lari Tual sagu tingkat kabupaten tahun 2013, Pesta sungai Bokor tahun 2013, Pesta Sungai Bokor tahun 2014, dan Pesta Sungai Bokor tahun 2015.

Lebih lanjut dikatakan, kegiatan ini juga sudah memecahkan rekor MURI pada 6 Juli 2015 silam, selain itu Lari di Atas Tual Sagu ini juga sudah didaftarkan sebagai nominasi Anugerah Pesona Indonesia tahun 2018.

“Alhamdulillah, Lomba Lari di Atas Tual Sagu sudah terdaftar sebagai WBTB. Hal ini menunjukkan ada peran pemerintah daerah untuk menaikkan ini menjadi salah satu icon budaya Kepulauan Meranti,” kata Sopandi, Senin (16/7/2018).

Untuk diketahui, Joged Sonde yang berasal dari Desa Sonde Kecamatan Rangsang Pesisir Kabupaten Kepulauan Meranti sudah terlebih dahulu ditetapkan jadi warisan budaya tak benda (WBTB) Indonesia oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2016 lalu.

redaksiR7

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *